Wayang Ukur

perjalanan kreatif Ki Sigit Sukasman, Yogyakarta

Bethari Durga – wayang ukur.


Bethari Durga.

.

BETHARI DURGA. Wayang Ukur era pertengahan 1980 an.
Foto : Stan Hendrawidjaja, Bogor.

.

Bathara Kamajaya – wayang ukur.


Bathara Kamajaya.

.

BATHARA KAMAJAYA. Wayang Ukur era pertengahan 1980 an.
Foto : Stan Hendrawidjaja.

.

Bathara Penyarikan – wayang ukur.


Bathara Penyarikan.

.

BATHARA PENYARIKAN. Wayang Ukur era pertengahan 1980 an.
Foto : Stan Hendrawidjaja.

.

 

Pengembaraan Imajinasi Ki Sigit Sukasman – wayang ukur.


Silakan berkomentar.

.

BATHARA BRAMA. Wayang Ukur era 1990 an.
Koleksi wayang dan pembuat foto : Stan Hendreawidjaja, Bogor.

.

.

BATHARA INDRA. Wayang Ukur era pertengahan 1980 an.
Foto : Stan Hendrawidjaja, Bogor.

.

 

Video Pagelaran Wayang Ukur 29 Agustus 2010.


Atas prakarsa Senawangi dan Pepadi , dan didukung sponsor-sponsor lain , Sanggar Wayang Ukur Mergangsan Yogyakarta mem-pagelar-kan pentas Wayang Ukur dengan lakon ” Sumantri Senopati “. Pagelaran dilaksanakan di Teater Kautaman, Gedung Pewayangan, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur pada tanggal 29 Agustus 2010.

Catatan :

Di atas kami memakai kata ‘ mem-pagelar-kan ‘ , kami tidak memakai kata ‘ me-ngelir-kan ‘ seperti biasanya wayang kulit purwa Jawa, karena pentas Wayang Ukur mengandung tidak hanya unsur kelir / layar saja tetapi juga mengandung unsur tampilan tari bersamaan.

 

Bapak Harmiel M Soekardjo – seorang pecinta wayang Indonesia berbagi tiga cuplikan rekaman video handycam nya di group Facebook Wayang Nusantara :

1.
Adegan Cakra Baskara :

ketahuilah sumantri,
pusaka pemberianku itu
mampu membunuh siapa saja
kecuali para dewa cakra baskara, namanya…

( ‘ sumantri senapati ‘,  pentas wayang ukur, 290810 teater kautaman tmii )

Tautan :

http://www.facebook.com/pages/Wayang-Nusantara-Indonesian-Shadow-Puppets/171041283735#!/video/video.php?v=1588624801422

 

2.

Adegan Sumantri, Sukasrana, Resi Suwandageni :

https://www.facebook.com/photo.php?v=1588826766471&set=vb.1409898463&type=3&permPage=1#!/photo.php?v=1588532879124&set=vb.1409898463&type=3&permPage=1

 

3.

Cakra Baskara dan Sang Pencipta Alam Semesta :

Harmiel M Soekardjo menulis pengantarnya :

+
duh eyang resi suwandagni,
sebenarnya hamba tidak menginginkan kedudukan ini
hamba tidak yakin,
apakah akan mampu dibebani tugas seberat ini
sementara hamba hanya ingin
agar sukasrana segera sembuh dari cacadnya

=
segala jerih payahmu utk menyembuhkan sukasrana,
tidak akan membawa hasil, ngger sumantri…
maka serahkanlah sukasrana padaku,
dan laksanakanlah tugasmu…

pesanku,
janganlah engkau lupa
pada sesembahanmu yang Maha Tunggal,
Sang Pencipta Alam Semesta.

percayalah,
tak akan ada yang mampu
menandingi cakra baskara.

( ‘ sumantri senapati ‘, pentas wayang ukur,
290810, teater kautaman tmii)

 

Tautan :

https://www.facebook.com/photo.php?v=1588826766471&set=vb.1409898463&type=3&permPage=1

 

 

 

 

Pencipta Wayang Ukur – Ki Sigit Sukasman – Wafat ( 29 Oktober 2009 )


08 Nop 2009> Pencipta Wayang Ukur – Ki Sukasman – wafat.
oleh Wayang Purwa – Links pada 8 November 2009 pukul 17:26 ·

 

Pencipta Wayang Ukur – Ki Sukasman – wafat.
Dalang Yogyakarta, pencipta wayang ukur, berita kematian, obituari.

[diunggah pertama 08 Nop 2009 : Budi Adi Soewirjo]

Pengantar Admin Wayang Purwa Links :
Di hari-hari terakhir bulan Oktober 2009 pewayangan Indonesia telah kehilangan dua orang dalang terkenal. Di catatan sebelumnya kami telah menampilkan berita tentang wafatnya Ki Tristuti Rachmadi Suryosaputro di Surakarta. Berikut ini catatan tentang berita kematian / obituari Ki Sukasman – yang terkenal sebagai pencipta wayang ukur – di Yogyakarta.

Bulan Juni 2009 Wayang Purwa Links pernah menampilkan URL URL situs situs tentang Wayang Ukur Ki Sukasman :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=89761756085 .

.

.

Sumber : Tempo Interaktif, Jakarta.

Ki Sukasman, Ukuran Sejati.
Jum’at, 30 Oktober 2009 | 07:46 WIB

TEMPO Interaktif, Suara gamelan bertalu-talu mengiringi kepergian Ki Sukasman di Mergangsan II/1308, Yogyakarta, kemarin. Prosesi pemakamannya berubah menjadi sebuah pentas wayang. Seorang dalang–diperankan oleh penari Miroto–memainkan anak wayang Semar, Togog, dan Batara Guru di kelir dengan tata cahaya yang digarap serius.
.

Ki Sukasman.
Sumber : Tempo interaktif.

          .

Tepat di depan kelir, tergolek sebuah peti mati terbungkus kain putih. Di dalam peti mati itu, terbujur jenazah Ki Sigit Sukasman, 73 tahun, seorang tokoh seniman pencipta wayang ukur.

Tiga tokoh wayang ukur itu memang sengaja dimainkan untuk melepas kepergian penciptanya, Ki Sukasman, ke pemakaman.

Tak hanya Miroto, sebagai dalang yang menangis, tapi juga ratusan pelayat mencucurkan air mata menyaksikan adegan sangat mengharukan itu. Gendhing Tlutur yang dimainkan secara langsung oleh para murid Ki Sukasman semakin menambah suasana sedih. “Mas Kasman telah mencapai ukuran yang sejati,” kata budayawan Sindhunata SJ saat melepas jenazah di rumah duka.

Ki Sigit Sukasman mengembuskan napas terakhir kemarin pagi pukul 07.00 di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Ia sempat dirawat selama dua hari akibat keluhan sesak napas. “Beliau memang punya penyakit paru-paru,” kata Bambang Paningron, anak angkat Ki Sukasman.

Ki Sigit Sukasman sejatinya bukan seorang dalang. Lelaki 73 tahun itu justru seorang perupa. Namun, kecintaannya terhadap wayang melebihi dalang mana pun. Tenaga, pikiran, bahkan seluruh hidupnya tercurah untuk dunia pewayangan.

Sejak kecil Sukasman memang akrab dengan wayang. Aktivitas harian Sukasman kecil selalu diisi dengan menggambar wayang. Ia bahkan memiliki sekotak wayang kertas, pemberian ayahnya.

Selepas SMA, pada 1957, Sukasman masuk ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta. Tujuannya hanya satu: mengembangkan hobi menggambar wayang. “Ternyata di ASRI tak ada pelajaran menggambar wayang,” kata Sukasman kepada Tempo, Agustus tahun lalu.

Meski kecewa, Sukasman tetap meneruskan pendidikannya. Sebab, ilmu yang ia dapat di bangku kuliah dinilainya tetap bermanfaat. Sukasman tidak lagi sekadar menjiplak saat menggambar tokoh wayang. Berbekal ilmu kuliah, ia bahkan mulai berani mengubah bentuk wayang klasik menjadi wayang kreasi baru.

Gambar-gambar wayang kreasi baru itu kemudian diperlihatkan kepada Ki Prayitno Wiguno, guru Sukasman di Abiranda (sebuah lembaga pendidikan pedalangan di Keraton Yogya). “Guru saya marah. Katanya, bentuk wayang itu sudah sempurna sehingga tidak boleh diutak-atik lagi,” kata dia, Agustus itu, kepada Tempo.

Sukasman berkisah, ia tak patah semangat. Ia bahkan mulai berani membuat wayang kreasinya itu dengan bahan dari kulit kerbau. Saat itu ia membuat tokoh wayang Petruk dan Gareng yang agak berbeda dengan pakem yang sudah ada. Wayang kreasi baru Sukasman ini lebih menonjolkan ciri khas kedua tokoh punakawan itu. Misalnya, ia lebih menonjolkan kecacatan mata, tangan, dan kaki Gareng.

Kegemaran Sukasman mengkreasikan wayang itu masih terus berlanjut saat ia bekerja di Jakarta sebagai dekorator, selepas lulus ASRI pada 1962. Ia bahkan dengan bangga memamerkan gambar-gambar wayang kreasi barunya saat mendapat kesempatan mengikuti World Fair di New York pada 1964.

Awal 1965, beberapa bulan setelah pulang dari New York, Sukasman merantau ke Belanda. Semangat mengkreasikan wayang semakin menjadi-jadi. Ia terus saja membuat gambar-gambar wayang kerasi baru dan menjualnya dari pintu ke pintu. Ia bahkan tak peduli harus menjadi buruh cuci piring di restoran, sekadar bisa bertahan hidup dan membeli peralatan gambar untuk menyalurkan ide-ide kreatifnya.
.

Ki Sukasman.
Sumber : Tempo interaktif.

.

Pada Februari 1974, Sukasman kembali ke Indonesia. Sebulan kemudian, ia mengikuti Pekan Wayang II di Jakarta. Ia memamerkan sejumlah anak wayang kreasi barunya itu. “Banyak yang mencemooh, tapi ada satu orang yang memuji, yaitu Pak Budiardjo (menteri penerangan yang juga penggemar wayang),” katanya.

Sukasman hanya terhenyak saat Budiardjo menanyakan nama wayang kreasinya itu. “Terus terang, saat itu saya tidak pernah terpikir untuk memberi nama wayang buatan saya. Akhirnya secara spontan saya menjawab, ini wayang ukur,” ucapnya.

Sejak saat itulah nama wayang ukur melekat pada diri Sukasman. Sosok wayang ukur sebenarnya tetap mengacu pada wayang kulit konvensional. Sukasman hanya mengubah bagian-bagian tertentu untuk menonjolkan karakternya. Perubahan bagian-bagian tertentu anatomi wayang ini juga didasarkan atas perhitungan teknis pertunjukan. Misalnya, memperlebar bahu dan memanjangkan tangan agar gerak wayang saat dimainkan bisa tertangkap jelas oleh penonton.

Perubahan bentuk wayang kreasi Sukasman itu sebenarnya didasarkan atas perhitungan ilmiah. Sukasman mencontohkan, huruf E jika dilihat dari jauh akan terlibat seperti huruf B. Karena itu, “sosok” huruf E harus “dikuruskan” agar tetap tertangkap mata dengan jelas dari jarak jauh. Pertimbangan Sukasman sangat rasional. Menonton pertunjukan wayang selalu dari jarak jauh. Itu sebabnya, Sukasman perlu memasukkan perhitungan teknis.

“Saya hanya mencari ukuran baru dari ukuran yang sudah ada. Itulah Wayang Ukur,” ujar Sukasman.

Tentu butuh dana besar untuk mewujudkan ide-idenya. Padahal ia sama sekali tidak memiliki penghasilan tetap. Dari mana ia memperoleh uang untuk mewujudkan ide-idenya? Awalnya, kebutuhan uang selalu digelontorkan oleh Winotosastro, kakak kandungnya yang juga seorang juragan batik terkenal di Yogya.

Tapi gelontoran dana itu akhirnya terhenti. Kakaknya jengkel karena menganggap pekerjaan Sukasman tidak bermanfaat. Pasokan dana itu kemudian diambil-alih keponakannya, Felix, seorang pengusaha jasa persewaan sound system. “Setiap minggu saya diberi uang Rp 500 ribu oleh keponakan saya itu. Terserah saya mau digunakan untuk apa uang itu,” katanya.

Sukasman juga tidak pernah merasa risau meski wayang ukur-nya jarang diundang pentas. “Kalaupun diundang pentas, itu juga tidak menghasilkan uang, wong selalu saja nombok,” katanya enteng.

Pentas wayang ukur Sukasman memang tergolong unik. Ia menggabungkan pertunjukan wayang kulit dengan teater. Panggung pertunjukan selalu dihiasi dengan patung-patung fiberglass ukuran besar hasil kreasinya sendiri. Ia juga memanfaatkan teknik tata lampu, baik dari depan maupun dari belakang layar sehingga pentas wayang ukur bisa dinikmati dalam “format” tiga dimensi, bukan “format” dua dimensi seperti pertunjukan wayang kulit pada umumnya.

Sukasman juga selalu melibatkan para penari dalam setiap pementasannya. Ia juga tidak menggunakan satu dalang, melainkan tiga atau empat dalang. Bahasa yang digunakan bahasa Indonesia. Durasi pentasnya dibatasi hanya dua jam, agar penonton tidak jenuh.

Meski sudah mati-matian memformat pertunjukannya demi menyedot minat anak muda, toh pentas wayang ukur-nya selalu sepi pengunjung. Belum lagi cemoohan yang sering didengarnya. “Sakit hati juga jika mendengar cemoohan. Namun, saya tetap berusaha menghibur diri. Toh banyak orang lain yang mendapat perlakuan lebih buruk. Paling tidak saya tidak pernah dilempar telur busuk saat pertunjukan,” katanya enteng.

Hingga akhir hayatnya, Ki Sukasman tetap berkarya dan terus melakukan pencarian. Dunia penciptaan wayang begitu mengasyikkannya hingga ia rela tidak menikah. “Sampai saat ini tak kurang dari 400 wayang ukur diciptakan oleh Mas Kasman. Namun, dari 400-an wayang itu, hanya sekitar 15 wayang yang memuaskan hatinya. Mas Kasman memang terus gelisah, terus melakukan pencarian hingga akhir hayatnya,” kata Sindhunata saat melepas jenazah.

Heru CN

[akhir unggah 08 Nop 2009]

Bathara Yamadipati – wayang ukur.


Bathara Yamadipati.

.

Di dalam kisah pewayangan, Bathara Yamadipati ini adalah dewa yang bertugas menjemput ‘ titah manungso ‘ yang dipanggil Gusti Allah meninggalkan dunia fana menuju ke alam baka.

.

BATHARA YAMADIPATI. Wayang Ukur erapertengahan 1980 an.
Foto : Stan Hendrawidjaja, Bogor.

.

Bathara Sambo – wayang ukur.


Bathara Sambo.

.

BATHARA SAMBO. Wayang Ukur erapertengahan 1980 an.
Foto : Stan Hendrawidjaja, Bogor.

.

Sang Hyang Asmara – wayang ukur.


Sang Hyang Asmara.

.

SANG HYANG ASMARA. Wayang Ukur era pertengahan 1980 an.
Foto : Stan Hendrawidjaja.

.

Breaking news : Matswapati, tampilan dekat, cahaya belakang – wayang ukur.


Breaking news.

Kami tampilkan tampilan dekat (close up ) wayang ukur tokoh Matswapati dengan teknik pencahayaandari belakang.

Sengaja kami tampilkan untuk memperkenalkan lebih dekat detail dari wayang ukur karya Ki Sigit Sukasman. Bagi peminat seni kriya wayang kulit bisa ‘ membandingkan ‘ dengan wayang kulit tradisional. Dalam hal ini kami memakai kata ‘ membandingkan ‘ dalam konotasi positif. Bukan mencari mana yang lebih indah. Bukan. Karena hal tersebut tergantung subyektifitas masing-masing pribadi ; dan kami melihat bahwa semuanya – baik yang tradisional maupun yang baru – mempunyai ciri-ciri keindahan masing-masing.

Bagi peminat serius studi wayang ukur, silakan berkunjung secara teratur ke blog ini karena , dengan mohon ijin Gusti Allah agar tidak ada aral melintang , masih ada puluhan foto wayang ukur dan artikel yang akan kami tampilkan di blog ini. Disarankan, lebih baik Anda jadi ‘ follower ‘ blog ini dengan memasukkan alamat email Anda di bagian kanan bawah halaman ini , agar jika ada tulisan / posting foto baru Anda diberitahu oleh sistem melalui email Anda.

Sesuai dengan tujuan dibuatnya blog ini, tampilan-tampilan di blog ini sebagai sarana berbagi pengetahuan tentang wayang ukur , sekaligus sebagai sarana dokumentasi wayang ukur. Dokumentasi jejak langkah karya Ki Sigit Sukasman selayaknya bisa diketahui masyarakat Indonesia sebagai satu torehan berarti di dalam proses perjalanan kreatif elemen masyarakat meng-apresiasi wayang Jawa.

.

MATSWAPATI. Tampilan dekat (close-up), pencahayaan belakang. Wayang Ukur era 1990 an.
Koleksi wayang dan difoto : Stan Hendrawidjaja, Bogor.

.

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.