Wayang Ukur

perjalanan kreatif Ki Sigit Sukasman, Yogyakarta

Wujud Wayang Ukur.


Hari Minggu, 29 Agustus 2010 lalu di Gedung Kautaman Pewayangan menggelar wayang ukur dengan lakon Sumantri Senopati. Pagelaran tersebut diselenggarakan oleh SENAWANGI dan PEPADI didukung oleh Pondok Seni Sukasman dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Pada note ini kami tidak membahas detail pagelaran wayang ukur, tetapi kami lebih ingin memfokuskan kepada dokumentasi bagaimana mbah Kasman bereksplorasi . Note ini merupakan semacam uneg-uneg atau pertanyaan yang muncul dari beberapa video presentasi mbah Kasman. Pertanyaan besarnya bagi kami adalah dari nama Wayang Ukur, ukurannya di mana, dan tentunya sebagai suatu yang terukur mempunyai besaran dan satuan atau semestinya kita tidak terjebak pada teori pengukuran fisika ini. Note ini merupakan bagian dari beberapa note ke depan, kami sengaja memisahkan untuk mencoba ikut-ikutan ekplorasi dari sekian banyak apa yang telah diwariskan oleh mbah Kasman.

Baiklah, kami memulai dengan ungkapan mbah Kasman bahwa beliau meminjam salah satu hukum seni rupa, yaitu menurut bidang beliau dalam commercial art, dengan contoh huruf E yang dituliskan dengan gemuk akan terlihat bisa mirip dengan huruf B atau D, maka untuk membuat lebih jelas dibuat huruf E lebih kurus, supaya bisa mudah dan bisa dilihat dari jarak yang lebih jauh. Hal ini bisa dimengerti, sehingga kalau diperhatikan 90% dari wayang pokok itu memang wujudnya lebih kurus dari proporsi riil manusia .

.

Huruf E yang gemuk bisa seperti huruf B atau D, maka huruf E dibuat lebih kurus.

Huruf E yang gemuk bisa seperti huruf B atau D, maka huruf E dibuat lebih kurus.

.

Lanjutan dari usaha-usaha memperjelas  wujud ini adalah dengan menarik bahu ke belakang untuk membedakan mana tangan kanan dan mana tangan kiri. Jika pada posisi miring penuh pada saat menggerakkan tangan kanan atau tangan kiri ketika dilihat dari jauh menjadi tidak dapat diketahui mana yang bergerak tangan kanan atau kiri, maka dengan menarik jauh ke belakang salah satu tangan maka menjadi dapat diketahui tangan mana yang sedang digerakkan.  Beliau mengungkapkan bahwa dalam dunia seni itu selalu diusahakan posisi yang paling jelas ketika dilihat dari jauh.

Ketika dibuat miring dengan bahu belakang menjorok maka akan kelihatan mana tangan kanan atau tangan kiri yang sedang bergerak.

Begitulah apa yang kami tangkap dari cara mbah Kasman berusaha menjelaskan beberapa pertanyaan yang selama ini dijawab dengan “yo wis ngono kuwi wujude ( ya begitulah wujudnya )”.   Tentunya pendekatan di atas juga hanya salah satu dari beberapa pendekatan yang berusaha menjelaskan bagaimana para pendahulu kita bereksplorasi mewariskan wayang menjadi bentuk seperti ini .  Dari mana inspirasi itu datang, kemudian bagaimana seni bentuk wayang ini mengalami evolusi dari waktu  ke waktu. Di satu sisi disinilah bukti para empu tetap bergerak dalam pemikirannya dari waktu ke waktu, dan pastinya evolusi itu menjadi lebih baik. Dari diskusi dengan Pak Yoyok, diungkapkan, bahwa kita itu ya harus mampu Niteni, Nirokne, Nambahi. Kemudian ditambahkan oleh Pak Joko Khelek dengan Invention (Nemokne).  Wallahu ‘alam …

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: