Wayang Ukur

perjalanan kreatif Ki Sigit Sukasman, Yogyakarta

Pencipta Wayang Ukur – Ki Sigit Sukasman – Wafat ( 29 Oktober 2009 )


08 Nop 2009> Pencipta Wayang Ukur – Ki Sukasman – wafat.
oleh Wayang Purwa – Links pada 8 November 2009 pukul 17:26 ·

 

Pencipta Wayang Ukur – Ki Sukasman – wafat.
Dalang Yogyakarta, pencipta wayang ukur, berita kematian, obituari.

[diunggah pertama 08 Nop 2009 : Budi Adi Soewirjo]

Pengantar Admin Wayang Purwa Links :
Di hari-hari terakhir bulan Oktober 2009 pewayangan Indonesia telah kehilangan dua orang dalang terkenal. Di catatan sebelumnya kami telah menampilkan berita tentang wafatnya Ki Tristuti Rachmadi Suryosaputro di Surakarta. Berikut ini catatan tentang berita kematian / obituari Ki Sukasman – yang terkenal sebagai pencipta wayang ukur – di Yogyakarta.

Bulan Juni 2009 Wayang Purwa Links pernah menampilkan URL URL situs situs tentang Wayang Ukur Ki Sukasman :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=89761756085 .

.

.

Sumber : Tempo Interaktif, Jakarta.

Ki Sukasman, Ukuran Sejati.
Jum’at, 30 Oktober 2009 | 07:46 WIB

TEMPO Interaktif, Suara gamelan bertalu-talu mengiringi kepergian Ki Sukasman di Mergangsan II/1308, Yogyakarta, kemarin. Prosesi pemakamannya berubah menjadi sebuah pentas wayang. Seorang dalang–diperankan oleh penari Miroto–memainkan anak wayang Semar, Togog, dan Batara Guru di kelir dengan tata cahaya yang digarap serius.
.

Ki Sukasman.
Sumber : Tempo interaktif.

          .

Tepat di depan kelir, tergolek sebuah peti mati terbungkus kain putih. Di dalam peti mati itu, terbujur jenazah Ki Sigit Sukasman, 73 tahun, seorang tokoh seniman pencipta wayang ukur.

Tiga tokoh wayang ukur itu memang sengaja dimainkan untuk melepas kepergian penciptanya, Ki Sukasman, ke pemakaman.

Tak hanya Miroto, sebagai dalang yang menangis, tapi juga ratusan pelayat mencucurkan air mata menyaksikan adegan sangat mengharukan itu. Gendhing Tlutur yang dimainkan secara langsung oleh para murid Ki Sukasman semakin menambah suasana sedih. “Mas Kasman telah mencapai ukuran yang sejati,” kata budayawan Sindhunata SJ saat melepas jenazah di rumah duka.

Ki Sigit Sukasman mengembuskan napas terakhir kemarin pagi pukul 07.00 di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Ia sempat dirawat selama dua hari akibat keluhan sesak napas. “Beliau memang punya penyakit paru-paru,” kata Bambang Paningron, anak angkat Ki Sukasman.

Ki Sigit Sukasman sejatinya bukan seorang dalang. Lelaki 73 tahun itu justru seorang perupa. Namun, kecintaannya terhadap wayang melebihi dalang mana pun. Tenaga, pikiran, bahkan seluruh hidupnya tercurah untuk dunia pewayangan.

Sejak kecil Sukasman memang akrab dengan wayang. Aktivitas harian Sukasman kecil selalu diisi dengan menggambar wayang. Ia bahkan memiliki sekotak wayang kertas, pemberian ayahnya.

Selepas SMA, pada 1957, Sukasman masuk ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta. Tujuannya hanya satu: mengembangkan hobi menggambar wayang. “Ternyata di ASRI tak ada pelajaran menggambar wayang,” kata Sukasman kepada Tempo, Agustus tahun lalu.

Meski kecewa, Sukasman tetap meneruskan pendidikannya. Sebab, ilmu yang ia dapat di bangku kuliah dinilainya tetap bermanfaat. Sukasman tidak lagi sekadar menjiplak saat menggambar tokoh wayang. Berbekal ilmu kuliah, ia bahkan mulai berani mengubah bentuk wayang klasik menjadi wayang kreasi baru.

Gambar-gambar wayang kreasi baru itu kemudian diperlihatkan kepada Ki Prayitno Wiguno, guru Sukasman di Abiranda (sebuah lembaga pendidikan pedalangan di Keraton Yogya). “Guru saya marah. Katanya, bentuk wayang itu sudah sempurna sehingga tidak boleh diutak-atik lagi,” kata dia, Agustus itu, kepada Tempo.

Sukasman berkisah, ia tak patah semangat. Ia bahkan mulai berani membuat wayang kreasinya itu dengan bahan dari kulit kerbau. Saat itu ia membuat tokoh wayang Petruk dan Gareng yang agak berbeda dengan pakem yang sudah ada. Wayang kreasi baru Sukasman ini lebih menonjolkan ciri khas kedua tokoh punakawan itu. Misalnya, ia lebih menonjolkan kecacatan mata, tangan, dan kaki Gareng.

Kegemaran Sukasman mengkreasikan wayang itu masih terus berlanjut saat ia bekerja di Jakarta sebagai dekorator, selepas lulus ASRI pada 1962. Ia bahkan dengan bangga memamerkan gambar-gambar wayang kreasi barunya saat mendapat kesempatan mengikuti World Fair di New York pada 1964.

Awal 1965, beberapa bulan setelah pulang dari New York, Sukasman merantau ke Belanda. Semangat mengkreasikan wayang semakin menjadi-jadi. Ia terus saja membuat gambar-gambar wayang kerasi baru dan menjualnya dari pintu ke pintu. Ia bahkan tak peduli harus menjadi buruh cuci piring di restoran, sekadar bisa bertahan hidup dan membeli peralatan gambar untuk menyalurkan ide-ide kreatifnya.
.

Ki Sukasman.
Sumber : Tempo interaktif.

.

Pada Februari 1974, Sukasman kembali ke Indonesia. Sebulan kemudian, ia mengikuti Pekan Wayang II di Jakarta. Ia memamerkan sejumlah anak wayang kreasi barunya itu. “Banyak yang mencemooh, tapi ada satu orang yang memuji, yaitu Pak Budiardjo (menteri penerangan yang juga penggemar wayang),” katanya.

Sukasman hanya terhenyak saat Budiardjo menanyakan nama wayang kreasinya itu. “Terus terang, saat itu saya tidak pernah terpikir untuk memberi nama wayang buatan saya. Akhirnya secara spontan saya menjawab, ini wayang ukur,” ucapnya.

Sejak saat itulah nama wayang ukur melekat pada diri Sukasman. Sosok wayang ukur sebenarnya tetap mengacu pada wayang kulit konvensional. Sukasman hanya mengubah bagian-bagian tertentu untuk menonjolkan karakternya. Perubahan bagian-bagian tertentu anatomi wayang ini juga didasarkan atas perhitungan teknis pertunjukan. Misalnya, memperlebar bahu dan memanjangkan tangan agar gerak wayang saat dimainkan bisa tertangkap jelas oleh penonton.

Perubahan bentuk wayang kreasi Sukasman itu sebenarnya didasarkan atas perhitungan ilmiah. Sukasman mencontohkan, huruf E jika dilihat dari jauh akan terlibat seperti huruf B. Karena itu, “sosok” huruf E harus “dikuruskan” agar tetap tertangkap mata dengan jelas dari jarak jauh. Pertimbangan Sukasman sangat rasional. Menonton pertunjukan wayang selalu dari jarak jauh. Itu sebabnya, Sukasman perlu memasukkan perhitungan teknis.

“Saya hanya mencari ukuran baru dari ukuran yang sudah ada. Itulah Wayang Ukur,” ujar Sukasman.

Tentu butuh dana besar untuk mewujudkan ide-idenya. Padahal ia sama sekali tidak memiliki penghasilan tetap. Dari mana ia memperoleh uang untuk mewujudkan ide-idenya? Awalnya, kebutuhan uang selalu digelontorkan oleh Winotosastro, kakak kandungnya yang juga seorang juragan batik terkenal di Yogya.

Tapi gelontoran dana itu akhirnya terhenti. Kakaknya jengkel karena menganggap pekerjaan Sukasman tidak bermanfaat. Pasokan dana itu kemudian diambil-alih keponakannya, Felix, seorang pengusaha jasa persewaan sound system. “Setiap minggu saya diberi uang Rp 500 ribu oleh keponakan saya itu. Terserah saya mau digunakan untuk apa uang itu,” katanya.

Sukasman juga tidak pernah merasa risau meski wayang ukur-nya jarang diundang pentas. “Kalaupun diundang pentas, itu juga tidak menghasilkan uang, wong selalu saja nombok,” katanya enteng.

Pentas wayang ukur Sukasman memang tergolong unik. Ia menggabungkan pertunjukan wayang kulit dengan teater. Panggung pertunjukan selalu dihiasi dengan patung-patung fiberglass ukuran besar hasil kreasinya sendiri. Ia juga memanfaatkan teknik tata lampu, baik dari depan maupun dari belakang layar sehingga pentas wayang ukur bisa dinikmati dalam “format” tiga dimensi, bukan “format” dua dimensi seperti pertunjukan wayang kulit pada umumnya.

Sukasman juga selalu melibatkan para penari dalam setiap pementasannya. Ia juga tidak menggunakan satu dalang, melainkan tiga atau empat dalang. Bahasa yang digunakan bahasa Indonesia. Durasi pentasnya dibatasi hanya dua jam, agar penonton tidak jenuh.

Meski sudah mati-matian memformat pertunjukannya demi menyedot minat anak muda, toh pentas wayang ukur-nya selalu sepi pengunjung. Belum lagi cemoohan yang sering didengarnya. “Sakit hati juga jika mendengar cemoohan. Namun, saya tetap berusaha menghibur diri. Toh banyak orang lain yang mendapat perlakuan lebih buruk. Paling tidak saya tidak pernah dilempar telur busuk saat pertunjukan,” katanya enteng.

Hingga akhir hayatnya, Ki Sukasman tetap berkarya dan terus melakukan pencarian. Dunia penciptaan wayang begitu mengasyikkannya hingga ia rela tidak menikah. “Sampai saat ini tak kurang dari 400 wayang ukur diciptakan oleh Mas Kasman. Namun, dari 400-an wayang itu, hanya sekitar 15 wayang yang memuaskan hatinya. Mas Kasman memang terus gelisah, terus melakukan pencarian hingga akhir hayatnya,” kata Sindhunata saat melepas jenazah.

Heru CN

[akhir unggah 08 Nop 2009]

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: