Wayang Ukur

perjalanan kreatif Ki Sigit Sukasman, Yogyakarta

Lambang dan arti tersembunyi dalam rupa wayang. – [ wayang ukur ]


Lambang dan arti tersembunyi dalam rupa wayang.

pernah disiapkan di Wayang Nusantara (Indonesian Shadow Puppets) pada 2 April 2011 pukul 8:29 · https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150241475691110

 

admin: tulisan ini merupakan “potongan”/ bagian dari makalah/naskah mendiang Sigit Sukasman, pencipta Wayang Ukur : SEGI SENI RUPA WAYANG KULIT PURWA DAN PERKEMBANGANNYA – dari kumpulan naskah / buku RUPA WAYANG DALAM SENIRUPA KONTEMPORER INDONESIA pada Pameran Seni Rupa Kontemporer PEKAN WAYANG INDONESIA ke VI tahun 1993.

 

Lambang dan arti tersembunyi dalam rupa wayang.

Membicarakan dunia senirupa wayang tidak mungkin dilepaskan dari fungsinya yang ganda. Seperti halnya raksasa, Semar –Togog juga lebih gemuk dari manusia, tetapi bentuk tubuh keseluruhan berbentuk bulat, rupanya ini merupakan lambang, bahwa setiap perubahan jaman apapun keduanya mudah mengikuti perubahan jaman, menggelundung terus, tanpa cedera. Tetapi kedudukannya tetap di bawah, tidak pernah berkeinginan menuntut haknya semula : sebagai dewa.

Sebaliknya Batara Guru yang memnjadi penguasa dunia, kakinya digambarkan lumpuh, tanpa jasa Lembu Andini, dia tidak dapat bergerak, sementara tokoh aslinya dari India : Shiva, dewa perusak, tidak lumpuh. Apakah ini merupakan sindiran. Yang jelas tidak mungkin si penguasa sempat mengerjakan ideanya yang terlalu banyak sendirian, juga empat tangan yang sementara orang menganggap sebagai cacat, mungkin lambang akan kekuasaannya , ia mampu berbuat banyak.

Pada “Apa dan Siapa Semar” karya Ir.Sri Mulyono halaman 55 tertulis : “Togog yang lahir dari penjelmaan kulit telur itu, merupakan simbol suatu hidup yang benar-benar laksana kulit tanpa isi, yaitu laksana manusia yang mementingkan wadah sedang isinya kosong. Pendek kata mementingkan masalah duniawi, atau perut dan mulut saja, karena itu ia mengikuti para raksasa.”

Dugaan saya, telur adalah satu kesatuan. Justru pada kulitlah tergantung keselamatan kuning dan putih telur, retak sedikit saja sebelum menetas meng-akibatkan busuknya si kuning dan si putih telur. Putih telur bertindak sebagai makanan untuk kuning telur. Pada saat si putih sudah habis, si kulit harus pecah pula, karena si kuning sudah bernyawa, siap menjadi raja di Kahyangan. Batara Guru (si kuning) letaknya di atas manusia, sedangkan Semar Togog (si putih dan si kulit) letaknya di bawah manusia.

.

 

foto togog – wayang ukur

.

Togog yang selalu memberikan nasihat kepada majikannya dari kelompok yang jahat, dengan cara yang blak-blakan dan dengan sura yang keras. Yang diberi nasihat biasanya orang yang ceroboh, keras kepala. Bentuk mulut Togog lebar, mata membelalak besar dan hidung yang berlobang besar pula.

Semar yang selalu memberikan nasihat kepada orang yang aik-baik, bijaksana dengan cara yang samar, tidak blak-blakan, penuh perlambang. Mata Semar tertutup blobok tebal, hidung penuh ingus, telinga disumbat dengan cabe besar. Bentuk tubuhnya tidak berkesan lelaki tidak pula perempuan. Dia tidak mendukung, tidak pula menentang, selalu dalam situsi netral, ini dipertegas dengan raut muka seperti orang mati. Kalau tertawa becampur dengan menangis, kalau menangis campur tertawa, suatu usaha menutupi perasaan dirinya sendiri. Kepura-puraanya bahwa dia tidak tahu apa-apa, sekedar memberikan kesempatan luas kepada asuhannya agar berpikir kritis. Perutnya yang besar pandai menyimpan rahasia.

.

 

foto semar – wayang ukur

.

Bentuk tubuh Togog dan Semar bulat, lunak, mudah menggelundung, menyesuaikan diri dengan situasi, keduanya tidak mempunyai cita-cita untuk dirinya sendiri, bahkan tidak beristri. Dalam kitab “Sudamala” disebutkan bahwa Semar jatuh cinta kepada Nini Towok, yang melambangkan Semar jatuh cinta kepada semua leluhur, seperti kita ketahui Nini Towok adalah “alat” untuk memanggil roh nenek moyang.

Petruk dengan tubuh yang serba berlebih dan tampak sangat gesit dan suka menggoda serta selalu menguasai keadaan. Petruk di anggap sebagai simbol “rasa”. Petruk gaya Solo yang beratribut “muntu” alat pelumat sambal, lebih mempertegas perlambang rasa.

Sementara itu Gareng dengan cacad-cacad yang banyak sekali pada tubuhnya dianggap sebagai lambang “pikir”, apapun kalau dipikir seolah-olah akan serba mengecewakan.

Petruk dapat disimbolkan sebagai lambang yang berenergi positif, sedang Gareng lambang energi negatif. Setiap adegan “gara-gara” Petruk dan Gareng selalu bertengkar dan tentu saja Petruk yang “menang”. Sementara itu Bagong yang sebelumnya dipihak Gareng membujuk Petruk untuk berdamai dan Petruk justru menggendongnya.

Di hadapan Semar , Semar mereka meminta membawakan lagu sambil menari, merangsang Petruk, Gareng dan Bagong berpacu dalam berdendang, dengan seni mereka bersatu meskipun mereka mempertahankan pendiriannya sendiri-sendiri, tetapi toleransi tetap dijunjung tinggi.

Arjuna dalam pewayangan Jawa sangat diistimewakan, karena dianggap lelananing jagat, satu-satunya lelaki yang terhebat di dunia ini. Seperti dari asalnya, Arjuna Jawa ini juga ahli memanah, ternyata perkataan “manah “dalam bahasa Jawa diberi arti lain yaitu “menggalih“, menimbang rasa. Yogi bear : ” You can’t think and hit at the same time” (Peter’ quatations USA).

.

 

foto nini thowok – rijksmuseum KITLV

.

Saya menjadi heran dan tak habis pikir, mengapa wayang, filsafat, cerita maupun pementasannya dianggap sempurna, yang berarti tak boleh digeser sedikitpun? Mengapa menilai seni rakyat seperti menilai ilmu pengetahuan eksakta, teknologi maupun religi, yang tidak boleh ditawar-tawar lagi.

Dunia seni wayang sangat luwes, mampu menyesuaikan diri dengan situasi apapun.

………

 

Komentar yang tertulis di Facebook :

 

Riduan Ahmad :

hindu – jawa – islam yang sama2 datang tumbuh n berkembang di JAWA mski beda pengartian namun memiliki tujuan yg sama
beriman ; saling menghargai ; memberi n menerima
2 April 2011 pukul 9:00 ·

 

Stan Hendrawidjaja :

pemikiran2 Mas Kasman ternyata sangat dalam dan didasari filosofi yg tinggi, sebaiknya memang dipublikasikan agar dpt di-share dengan masyarakat ..
2 April 2011 pukul 12:07 ·

 

Tricky Priyambodo :

Memang budaya wayang yang adiluhung tidak terbatas pada bayangan fisik wayang kulit yang memang sudah luar biasa. Jiwa dan karakter yang terkandung didalam wujud fisik lebih perlu dihali untuk lebih memahami kosmologi yang tentu sangat kompleks..

Akan tetapi dengan memahami seluruh ‘wewayangan tersebut’ barangkali akan terkuak, dinamika sosial dan psikologis masyarakat di alam nyata…
3 April 2011 pukul 6:28 ·

Single Post Navigation

One thought on “Lambang dan arti tersembunyi dalam rupa wayang. – [ wayang ukur ]

  1. “Pendobrak” tradisi memang selalu memukau. Tindakannya saja sudah mencengangkan, apalagi alasan yang mendasarinya. Two thumbs up buat Ki Sigit Sukasman dan blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: